![]() |
Hal ini sekarang popular disebut dengan
istilah “self-healing” yaitu fase yang diterapkan pada proses pemulihan
(secara umum gangguan psikologis seperti trauma, kecemasan). Proses ini terjadi
biasanya atas dasar dorongan individu yang mengalami gangguan psikologis dan
seringkali hanya di pandu oleh dirinya sendiri.
Self-healing memiliki banyak cara yang dalam
artikel ini kita akan membahas terkait Expressive writing therapy. Apa
sih expressive writing therapy itu? Terapi ini berupa aktivitas menulis
sebagai sarana untuk merefleksikan pikiran dan perasaan terdalam terhadap peristiwa
yang tidak menyenangkan, terapi ini memiliki keunggulan untuk mengatasi
berbagai masalah termasuk kecemasan(Susanti & Supriyantini, 2013).
Proses menulis dapat membantu
individu untuk memunculkan Kembali ingatan, perasaan, dan pikiran-pikiran yang
ditekan, ide yang terlupakan, serta membantu mengorganisasikan pikiran, atau
inspirasi yang kamu miliki. Sifatnya holistik, terapi ini memberikan kesadaran
mental melalui proses eksplorasi pengalaman individu.
Nah, bagaimana cara melakukan expressive
writing therapy?
Sebelumnya, siapkan buku dan alat
tulis pastinya. Boleh juga untuk menambah semangat dalam menulis, teman-teman hias
buku yang digunakan sesuai dengan selera kalian. Jika persiapan seperti alat
yang diperlukan sudah tersedia, kalian sudah bisa memulai proses ini.
Kita perlu memperhatikan tahapan
serta Langkah dalam expressive writing therapy. Berikut beberapa tahap
pelaksanaan expressive writing therapy berdasarkan Haynes & Hynes
(dalam Malchiodi, 2007), dan Thompson (dalam Bolton dkk, 2004) :
1. Recognition/initial write, tahapan pembuka menuju sesi
menulis. Kalian dapat menuliskan secara bebas kata, frase, atau ungkapan apapun
yang muncul dalam pikiran kalian. Tujuan tahap ini untuk membuka imajinasi,
memfokuskan pikiran, relaksasi dan menghilangkan ketakutan yang muncul.
2. Examination/writing exercise, tahap ini merupakan saat proses
menulis dilakukan. Kalian dapat menentukan batas waktu yang kalian inginkan
sesuai kapasitas kemampuan menulis yang dimiliki, setelah itu baca kembali
tulisan dan sempurnakan tulisan kalian. Hal ini bertujuan untuk mengeksplor
reaksi teman-teman terhadap situasi tertentu.
3. Juxtaposition/feedback, tulisan yang sudah dibuat silahkan
dibaca, direfleksikan, atau dapat dikembangkan, disempurnakan, dan diskusikan
dengan seseorang yang dapat kalian percayai. Hal utama yang diambil pada tahap
ini yaitu bagaimana perasaan kalian saat menyelesaikan tugas menulis dan atau
saat membaca. Tujuan tahapan ini sebagai sarana refleksi yang mendorong
pemerolehan kesadaran baru dan menginspirasi perilaku, sikap, atau nilai yang
baru, serta membuat individu memperoleh pemahaman yang lebih kedalam dirinya.
4. Application to the self, pada tahap terakhir silahkan
aplikasikan pengetahuan baru yang sudah kalian dapat dari menulis tersebut
didunia nyata. Apa yang sudah kalian pelajari selama sesi menulis dengan
merefleksikan kembali apa yang mesti diubah atau diperbaiki dan mana yang perlu
dipertahankan. Kemudian, refleksikan Kembali seberapa besar manfaat menulis
bagi kalian. Apakah ada hal-hal yang membuat tidak nyaman atau perlunya bantuan
tambahan untuk mengatasi masalah sebagai akibat dari proses menulis yang
dilakukan.
Nah, sekian proses exspressive
writing therapy, semoga bermanfaat dan dapat diikuti dengan baik. Lakukan
hal-hal yang teman-teman sukai untuk menyehatkan fisik dan psikis kalian, jika
dirasa berat segera datangi profesional. Terima Kasih!
DAFTAR PUSTAKA
Bolton,
G., Howlett, S., Lago, C., & Wright, J, K. (2004). Writing cure : An
Introductory handbook of writinh in counselling and therapy. New York :
Brunner-Routledge
Malchiodi,
Cathy A (Editor). (2007). Exspressive therapies. New York: The Guilford
Press
Susanti,
R., & Supriyantini. (2013). Pengaruh expressive writing therapy
terhadap penurunan tingkat kecemasan
berbicara di muka umum pada mahasiswa. Jurnal Psikologi, 09(02). 119 – 129.
.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar