Sumber Daya Manusia (SDM) yang
berkualitas manjadi syarat mutlak untuk dapat bersaing dimasa sekarang. Indaryani
dan Milwardani (dalam Nadjamudin, 1998) menyebutkan bahwa seseorang dikatakan
mempunyai kualitas SDM yang tinggi jika dapat menunjukkan perilaku yang
mencerminkan adanya kedisiplinan dalam pengelolaan waktu dalam mengerjakan
tugas-tugasnya. Mengelola waktu berarti mengarah pada pengelolaan diri dengan
berbagai cara yang bertujuan untuk mengoptimalkan waktu yang dimiliki. Artinya,
seseorang menyelesaikan pekerjaan di bawah waktu yang tersedia sehingga
mencapai hasil yang memuaskan (Ferrari dkk, 1995).
Berhubungan dengan manusia yang
berkualitas yang mencerminkan adanya kedisiplinan dalam pengelolaan waktu,
dalam ilmu Psikologi terdapat istilah prokrastinasi. Ferrari (Ghufron, 2003)
menjelaskan bahwa prokrastinasi dapat dipandang dari berbagai batasan tertentu.
1. Perilaku penundaan
Menunda dalam mengerjakan suatu tugas tanpa mempermasalahkan tujuan serta alasan penundaan yang dilakukan;
2. Kebiasaan
atau pola perilaku
Penundaan
yang dilakukan sebagai respon tetap yang selalu dilakukan seseorang dalam
menghadapi tugas, biasanya disertai oleh adanya keyakinan-keyakinan yang
irasional;
3. Trait kepribadian
Pengertian
ini prokrastinasi tidak hanya sebuah perilaku penundaan saja, akan tetapi
prokrastinasi merupakan suatu trait yang melibatkan komponen-komponen perilaku
maupun struktur mental lain yang saling terkait yang dapat diketahui secara
langsung maupun tidak langsung.
Prokrastinasi dapat
disimpulkan sebagai suatu penundaan yang dilakukan secara sengaja dan
berulang-ulang, dengan melakukan aktivitas lain yang tidak diperlukan dalam
pengerjaan tugas yang penting. Jadi, seseorang dikatakan melakukan
prokrastinasi jika dirinya menunda pekerjaan penting tanpa alasan yang logis,
padahal dirinya bisa melakukannya pada waktunya sesuai dengan rencana yang
telah dibuat sebelumnya.
FAKTOR PENYEBAB, Ferrari (Ghufron, 2003) menjelaskan terdapat beberapa
faktor yang menjadi penyebab prokrastinasi.
1. Kondisi kodrati
kondisi
kodrati individu merupakan faktor alamiah sebagai organisme. Terdiri dari jenis
kelamin, umur, dan urutan kelahiran. Jenis kelamin juga dapat menjadi faktor
yang menentukan perilaku prokastinasi. Friend menyampaikan bahwa Laki-laki
memiliki kecenderungan prokrastinasi yang lebih tinggi dibanding perempuan
(Timpe, 1999). Faktor kodrati lainnya adalah usia. Semakin dewasa seseorang
semakin berkurang perilaku prokrastinasinya. Terakhir, faktor kodrati lainnya
adalah urutan kelahiran. Anak sulung cenderung lebih diperhatikan, dilindungi,
dibantu, apalagi orang tua belum berpengalaman. Sedangkan anak bungsu cenderung
dimanja, apalagi bila selisih usianya cukup jauh dari kakaknya.
2. Kondisi Psikologis
kondisi
psikologis yang dikemukakan oleh Ferrari (Ghufron, 2003), menyebutkan bahwa
prokrastinasi akademik dipengaruhi oleh adanya keyakinan yang tidak rasional
dan perfeksionisme. Trait kepribadian yang dimiliki individu turut mempengaruhi
munculnya perilaku prokrastinasi, misalnya hubungan kemampuan sosial dan
tingkat kecemasan dalam berhubungan sosial.
3. Kondisi Fisiologis
Kondisi
fisik yang dapat menyebabkan perilaku prokrastinasi adalah kondisi kesehatan.
Sebagaimana dijelaskan Ferrari (Ghufron, 2003), bahwa kondisi kesehatan
seseorang akan menentukan tingkat prokrastinasinya. Kemudian kondisi fisiologis
lainnya adalah kelelahan (Wulan, 2000). Apabila orang yang dalam kondisi fisik
kurang sehat, ternasuk juga mengalami kelelahan, akan cenderung malas
beraktivitas dan menjadikan kesehatannya sebagai alasan untuk menunda-nunda
pekerjaan.
SOLUSI yang mampu diusahakan dalam menekan perilaku menunda ini terdapat beberapa sebagai berikut:
1. Mengubah
cara pandang
Dimasa pandemi seseorang perlu menyesuaikan diri dengan keadaan termasuk pekerjaan yang dilakukan secara daring karena adanya keterbatasan jarak. Dalam hal ini seseorang harus mengubah cara pandangnya untuk dapat melakukan pekerjaan walaupun dengan keterbatasan yang ada dan menganggap pekerjaan ini sebagai hal atau pengalaman baru yang menyenangkan. Contoh belajar mengoperasikan laptop sebagai pengalaman baru untuk dapat mengikuti trend yang ada agar tidak ketinggalan zaman teknologi.
2. Fokus
pada kenyataan
Walaupun adanya pandemi seseorang harus tetap meningkatkan kualitas dirinya. Hal ini harus tetap fokus pada kenyataan seperti tugas yang dimiliki, dengan cara tetap menyelesaikan pekerjaan sampai tuntas tanpa harus menunda-nunda.
3. Memperkecil
tugas
Pada saat seseorang mempunyai beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan, maka seseorang harus mampu membagi tugas tersebut. Misalnya, tugas menulis maka seseorang dapat memperkecil tugas tersebut dengan cara membuat outline terlebih dahulu. Kemudian keesokan harinya mencari bahan-bahan untuk penulisan, sampai akhirnya mau berkomitmen untuk menulis
4. Jangan
banyak alasan
Pandemi bukanlah hal untuk bermalas-malasan karena adanya keterbatasan yang mana seseorang bisa melakukan pekerjaan kapan saja dari rumah. Pada saat seseorang mempunyai tugas yang dimiliki maka harus diselesaikan tanpa harus menunda agar tidak terburu-buru saat deadline tiba.
5. Memberikan
self reward sebagai bentuk apresiasi diri
Setelah menyelesaikan
semua pekerjaan yang telah dilakukan seseorang perlu mengapresiasi dirinya. Di
masa pandemi ini seseorang bisa memberikan self reward dengan hal yang
sederhana aja. Misalnya, melist film yang mau di tonton setelah menyelesaikan
tugasnya atau membeli makanan dan minuman kesukaan.
Sumber:
Ferrari, J.R., Johnson, J.L & Mc. Cown, W.G., (1995). Procrastination And Task Viodance. New York : Plenum Press
Gufron, M.N. (2003). Hubungan Kontrol Diri dan Persepsi Remaja Terhadap Penerapan Disiplin Orangtua dengan Prokrastinasi Akademik. (Tesis). Yogyakarta: Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada. http://www.librarygunadarma.com.
Timpe, A. D. (2000). Mengelola Waktu: Seri Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo.
Wulan, R. (2000). Hubungan antara Pengasuhan Orang Tua dengan ProkrastinasiAkademik pada Remaja SMU. (Skripsi). Yogyakarta:Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar