Trust Issue, It’s Okay or Not Okay? (Ummu Nisa Nurshohihah, S.Psi.)


Baru-baru ini sedang hangat soal perselingkuhan, KDRT, dan berbagai macam kasus penghianatan. Hebohnya topik itu membuat semakin meningkatnya trust issue pada seseorang. Sebenarnya trust issue itu apa sih?


Trust issue merupakan gabungan antara trust dan issue. Trust sendiri memiliki arti kepercayaan. Kamus American Psychological Association (APA), kepercayaan (trust) merupakan suatu keyakinan pada diri seseorang yang menjadi sebuah ketergantungan. Seseorang yang sudah yakin dan percaya pada orang lain akan menganggap orang lain dapat diandalkan, sedangkan issue adalah masalah atau persoalan.


Trust issue “kita memberikan kepercayaan pada orang lain = kita memberikan kesempatan orang lain untuk melukai kita”


Trust issue merupakan keadaan seseorang memiliki kesulitan untuk percaya pada orang lain. Beberapa faktor penyebabnya seperti pernah dihianati, disakiti, diabaikan atau dikecewakan. Trust issue biasanya terjadi pada seseorang karena adanya pengalaman yang tidak menyenangkan di masa lalu. Paul J. Zak dalam artikelnya menyatakan bahwa seseorang yang memiliki trust issue seringkali memiliki pengalaman negatif dan traumatis terkait kepercayaan. Hal itu berupa penghianatan, penolakan, maupun manipulasi yang signifikan dalam hidupnya. Beberapa orang mungkin lambat laun bisa melupakan, tetapi ada juga yang ketika dipicu kembali dengan issue-issue terbaru terkait hal-hal diatas justru akan mengembalikan atau bahkan meningkatkan trust issue pada beberapa orang.


Trust issue biasanya muncul bersamaan dengan pikiran-pikiran negatif tentang orang lain. Sebagai contoh seperti apakah si A bisa dipercaya atau apakah si A tidak akan menyakiti perasaanku atau secara tidak langsung seseorang menggeneralisir bahwa semua laki-laki itu sama saja. Tanpa disadari kita pernah mengalami keadaan seperti itu. Hanya saja ada yang sudah berhasil melewatinya dan ada yang masih memilikinya. Seseorang bisa dikatakan mengalami trust issue ketika dia telah memenuhi beberapa gejala dan tanda-tanda.


Gejala dan tanda-tanda seseorang megalami trust issue. Pertama, seseorang mudah mencurigai orang lain. Seseorang akan memiliki sikap waspada yang berlebihan sehingga selalu berhati-hati dan curiga setiap kali bertemu dengan orang.


Kedua, menghindari hubungan yang lebih dalam dengan orang lain. Seseorang yang memiliki pikiran negatif pada orang lain, biasanya akan cenderung melakukan dialog dengan diri untuk mempertanyakan dan meragukan orang lain yang sedang berinteraksi dengan dirinya. Hal itu membuatnya membatasi diri dan memilih untuk menjauh ketika ada orang lain yang ingin mencoba mendekatinya lebih dalam.


Ketiga, menganggap bahwa pada akhirnya orang lain akan menghianatinya. Seseorang akan cenderung memiliki jarak dalam berhubungan dan tidak akan mudah untuk membuka diri karena ia meyakini bahwa orang lain akan menghianatinya suatu saat nanti. Keempat, merasa kesepian dan hampa. Seseorang dengan trust issue biasanya merasa bahwa tidak memiliki seseorang untuk berbagi, tidak memiliki teman, tidak ada yang menjalin hubungan yang tulus dengannya. Pada akhirnya mengakibatkan munculnya perasaan tertekan, khawatir, takut dan bisa berujung depresi.


Setiap masalah itu pasti ada pemicunya,  pemicu terjadinya trust issue pada seseorang yaitu karena adanya pengalaman masa lampau, bisa kemarin ataupun sekarang. Apalagi sekarang banyak sekali issue-issue yang terkait ketidak-harmonisan dalam suatu hubungan, hal itu sangat mungkin untuk menjadi salah satu pemicu munculnya atau meningkatnya trust issue.


Pengalaman masa lampau yang bisa memicu seseorang mengalami trust issue biasanya berupa hubungan anak dan orang tua. Hal itu akan berpengaruh pada hubungan sosial anak saat dewasa nanti. Sering mengalami pengabaian atau penghianatan ketika kecil ataupun remaja, baik di rumah atupun di lingkungan sekolah, menjadi pemicu seseorang memiliki trust issue ketika dewasa nanti.


Kejadian traumatis juga dapat menjadi pemicu terjadinya trust issue pada seseorang, seperti kecelakaan, penyakit, pencurian atau kerusakan properti pribadi, kehilangan orang yang dicintai, ditipu atau ditinggalkan demi orang lain. Dilecehkan atau di serang secara fisik dapat mempengaruhi kepercayaan seseorang pada orang lain.


Setelah mengetahui gejala dan pemicunya, jadi apakah trust issue itu bahaya ataukah tidak? Mari kita lihat dampak yang ditimbulkan ketika seseorang mengalami trust issue. Adapun dampak dari trust issue yaitu seseorang akan menjadi overthinking. Seseorang seringkali memikirkan sesuatu yang belum terjadi atau bahkan tidak akan terjadi pada dirinya. Terkadang juga seseorang seringkali berpikir bahwa yang telah dialami oleh orang lain akan dialaminya juga, padahal belum tentu terjadi, karena setiap orang memiliki kehidupannya masing-masing dan memiliki jalan nasibnya sendiri-sendiri. Mungkin beberapa orang pernah mengalami traumatis yang sama di masa lampau, akan tetapi cara orang dalam mengatasi traumanya itu berbeda-beda. Terkadang traumatis dapat mengganggu aktivitas dan menyebabkan gangguan penyesuaian.


Trust issue juga berkaitan erat dengan attachment issue. Attachment issue merupakan keadaan seseorang kesulitan terhubung secara emosional atau akrab dengan orang lain, bahkan jika ia ingin melakukannya.


Selain itu, trust issue menyebabkan seseorang mengalami PTSD (Post Trauma Syndrom Disorder). Dilansir dari goodtherapy, 2019 bahwa seseorang yang mengalami trust issue rentan mengalami kecemasan dan depresi serta Stres pasca trauma (PTSD) karena seseorang mungkin terus mengalami kembali trauma dalam pikiran mereka. Traumatis terkait kesulitan percaya pada orang lain biasanya dapat menimbulkan dampak psikologis yang negatif pada dirinya. Jadi trust issue menjadi sangat berbahaya jika tidak ditangani sesegera mungkin. Untuk itu kita perlu mengetahui cara mengatasi trust issue.


Cara mengatasi trust issue yang pertama yaitu dengan cara mengenalinya, jelas sekali bukan. Setiap masalah yang kita alami baiknya harus dikenali terlebih dahulu agar kita tahu cara mengatasinya. Selain mengenal juga harus melakukan penerimaan pada diri, karena proses penyembuhan pada masalah dibutuhkan adanya kesadasaran dan kesediaan dari diri sendiri. Ketika seseorang sudah mengenal dan menerima dirinya bahwa ia mengalami kesulitan untuk percaya dan mengalami pengalaman masa lalu terkait kepercayaan, ia akan memandang dirinya secara utuh dan menganggap pengalaman masa lalu sebagai bagian dari dirinya yang sekarang.


Kedua, memahami kembali konsep kepercayaan. Hal ini menjadi penting, karena dengan memahami konsep kepercayaaan membuat seseorang paham yang salah pada pemikirannya atau perasaannya terkait kepercayaan. Menurut McShane dan Von Glinow dalam Hanum, 2018 bahwa konsep kepercayaan yaitu jika seseorang telah yakin dengan orang lain yang berpengaruh pada dirinya walaupun beresiko, tetapi ia percaya bahwa orang lain tidak akan membahayakannya. Bagi beberapa orang mungkin sulit, tak apa, tapi ingat bahwa setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan dan tidak ada hubungan yang sempurna, jangan menganggap bahwa dirimu akan berakhir dengan mengalami kembali trauma lama. Memahami kembali konsep kepercayaan bisa menggunakan cara berdialog dengan diri sendiri.


Ketiga, latihan kepercayaan. Melatih diri untuk mampu kembali percaya pada orang lain dan mampu membuka diri tanpa berpikir bahwa orang tersebut akan mengkhianati suatu saat nanti. Melatih kepercayaan melalui move on dari trauma lama, yaitu dengan cara membuka diri secara perlahan dan berkomunikasi dengan orang terdekat tentang hal-hal yang sederhana. Pada akhirnya akan berani mengungkapkan ketidak-nyamanan dengan lawan bicara, teman atau partner. Libatkan emosi disetiap kali berkomunikasi dengan orang lain, agar muncul keakraban diantara kalian.


Berikan kesempatan pada dirimu untuk melakukan semua itu agar menjadi lebih kuat dan lebih dewasa dalam menyikapi hal atau situasi yang sama maupun berbeda. Maafkan dan berikan kesempatan pada orang lain yang telah mengecewakan atau menghianatimu, karena setiap orang memiliki banyak komponen dalam diri mereka, jadi lihatlah komponen positifnya.


Keempat, hubungi psikolog atau terapis. Jika trust issue menjadi sangat berlebihan dan mengganggu aktivitas serta tidak mampu lagi untuk mengatasinya, segera hubungi tim profesional yaitu psikolog. Dari psikolog akan banyak terapi yang dapat dilakukan untuk mengatasi kesulitan percaya pada orang, sehingga seseorang bisa kembali memberi kepercayaan dan menjalin hubungan dengan orang lain tanpa ada rasa khawatir lagi.


Kesimpulannya adalah sebenarnya trust issue itu semacam EDM atau biasa disebut sebagai mekanisme pertahanan diri. berawal dari seseorang memberi kepercayaan kemudian dikecewakan, sehingga membuat seseorang itu menjadi berhenti percaya dan membatasi diri dari berbagai kesempatan. Artinya ketika seseorang pernah merasakan dilukai atau dikecewakan atau dihianati, kemungkinan besar dia akan menjadi waspada dan hati-hati terhadap apapun termasuk orang.


Hal itu dapat sembuh sendiri ketika masih dalam batas wajar dan tidak berlebihan yaitu dengan cara membiarkan peluang atau kesempatan untuk dirimu agar sembuh dari trust issue. Jika trust issue menjadi berlebihan sehingga mengganggu aktivitas, jelas akan menjadi berbahaya karena mampu memicu munculnya permasalahan lain yang lebih berat. Hal itu yang pada akhirnya tidak bisa sembuh dengan sendirinya dan perlu adanya bantuan dari pihak profesional yaitu psikolog.


Kalo kata dr. Andreas “it’s okay punya trust issue, but it’s not okay ketika berlebihan dan membuka ke masalah-masalah berikutnya”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages