Baru-baru ini sedang hangat soal perselingkuhan, KDRT, dan berbagai macam kasus penghianatan. Hebohnya topik itu membuat semakin meningkatnya trust issue pada seseorang. Sebenarnya trust issue itu apa sih?
Trust issue merupakan gabungan antara trust dan issue.
Trust sendiri memiliki arti kepercayaan. Kamus American
Psychological Association (APA), kepercayaan (trust) merupakan
suatu keyakinan pada diri seseorang yang menjadi sebuah ketergantungan.
Seseorang yang sudah yakin dan percaya pada orang lain akan menganggap orang
lain dapat diandalkan, sedangkan issue adalah masalah atau persoalan.
Trust issue “kita memberikan kepercayaan pada orang lain =
kita memberikan kesempatan orang lain untuk melukai kita”
Trust issue merupakan keadaan seseorang memiliki kesulitan untuk percaya pada orang lain. Beberapa faktor penyebabnya seperti pernah dihianati, disakiti, diabaikan atau dikecewakan. Trust
issue biasanya terjadi pada seseorang karena adanya pengalaman yang tidak
menyenangkan di masa lalu. Paul J. Zak dalam artikelnya menyatakan bahwa seseorang yang memiliki trust issue seringkali memiliki pengalaman
negatif dan traumatis terkait kepercayaan. Hal itu berupa penghianatan, penolakan, maupun manipulasi yang signifikan dalam hidupnya.
Beberapa orang mungkin lambat laun bisa melupakan, tetapi ada juga yang ketika
dipicu kembali dengan issue-issue terbaru terkait hal-hal diatas justru
akan mengembalikan atau bahkan meningkatkan trust issue pada beberapa
orang.
Trust issue biasanya muncul bersamaan dengan
pikiran-pikiran negatif tentang orang lain. Sebagai contoh seperti apakah si A bisa dipercaya atau apakah si A tidak akan
menyakiti perasaanku atau secara tidak langsung seseorang menggeneralisir
bahwa semua laki-laki itu sama saja. Tanpa disadari kita pernah mengalami
keadaan seperti itu. Hanya saja ada yang sudah berhasil melewatinya dan ada
yang masih memilikinya. Seseorang bisa dikatakan mengalami trust issue ketika
dia telah memenuhi beberapa gejala dan tanda-tanda.
Gejala dan tanda-tanda seseorang megalami trust
issue. Pertama, seseorang mudah mencurigai orang lain. Seseorang akan
memiliki sikap waspada yang berlebihan sehingga selalu berhati-hati dan curiga
setiap kali bertemu dengan orang.
Kedua, menghindari hubungan yang lebih dalam
dengan orang lain. Seseorang yang memiliki pikiran negatif pada
orang lain, biasanya akan cenderung melakukan dialog dengan diri untuk
mempertanyakan dan meragukan orang lain yang sedang berinteraksi dengan dirinya.
Hal itu membuatnya membatasi diri dan memilih untuk
menjauh ketika ada orang lain yang ingin mencoba mendekatinya lebih dalam.
Ketiga, menganggap bahwa pada akhirnya orang
lain akan menghianatinya. Seseorang akan cenderung memiliki jarak dalam
berhubungan dan tidak akan mudah untuk membuka diri karena ia meyakini bahwa
orang lain akan menghianatinya suatu saat nanti. Keempat, merasa kesepian dan
hampa. Seseorang dengan trust issue biasanya merasa bahwa tidak memiliki
seseorang untuk berbagi, tidak memiliki teman, tidak ada yang menjalin hubungan
yang tulus dengannya. Pada akhirnya mengakibatkan munculnya perasaan tertekan,
khawatir, takut dan bisa berujung depresi.
Setiap masalah itu pasti ada pemicunya, pemicu terjadinya trust issue pada
seseorang yaitu karena adanya pengalaman masa lampau, bisa kemarin ataupun
sekarang. Apalagi sekarang banyak sekali issue-issue yang terkait ketidak-harmonisan
dalam suatu hubungan, hal itu sangat mungkin untuk menjadi salah satu pemicu
munculnya atau meningkatnya trust issue.
Pengalaman masa lampau yang bisa memicu
seseorang mengalami trust issue biasanya berupa hubungan anak
dan orang tua. Hal itu akan berpengaruh pada hubungan sosial
anak saat dewasa nanti. Sering mengalami pengabaian atau penghianatan ketika
kecil ataupun remaja, baik di rumah atupun di lingkungan sekolah, menjadi
pemicu seseorang memiliki trust issue ketika dewasa nanti.
Kejadian traumatis juga dapat menjadi pemicu
terjadinya trust issue pada seseorang, seperti kecelakaan, penyakit,
pencurian atau kerusakan properti pribadi, kehilangan orang yang dicintai,
ditipu atau ditinggalkan demi orang lain. Dilecehkan atau di serang secara
fisik dapat mempengaruhi kepercayaan seseorang pada orang lain.
Setelah mengetahui gejala dan pemicunya, jadi
apakah trust issue itu bahaya ataukah tidak? Mari kita lihat dampak yang
ditimbulkan ketika seseorang mengalami trust issue. Adapun dampak dari trust
issue yaitu seseorang akan menjadi overthinking. Seseorang seringkali
memikirkan sesuatu yang belum terjadi atau bahkan tidak akan terjadi pada
dirinya. Terkadang juga seseorang seringkali berpikir bahwa yang telah dialami
oleh orang lain akan dialaminya juga, padahal belum tentu terjadi, karena
setiap orang memiliki kehidupannya masing-masing dan memiliki jalan nasibnya
sendiri-sendiri. Mungkin beberapa orang pernah mengalami traumatis yang sama di
masa lampau, akan tetapi cara orang dalam mengatasi traumanya itu berbeda-beda.
Terkadang traumatis dapat mengganggu aktivitas dan menyebabkan gangguan penyesuaian.
Trust issue juga berkaitan erat dengan attachment issue. Attachment
issue merupakan
keadaan seseorang kesulitan terhubung secara emosional atau akrab dengan orang
lain, bahkan jika ia ingin melakukannya.
Selain itu, trust issue menyebabkan
seseorang mengalami PTSD (Post Trauma Syndrom Disorder). Dilansir dari goodtherapy,
2019 bahwa seseorang yang mengalami trust issue rentan mengalami kecemasan
dan depresi serta Stres pasca trauma (PTSD) karena seseorang mungkin terus
mengalami kembali trauma dalam pikiran mereka. Traumatis terkait kesulitan
percaya pada orang lain biasanya dapat menimbulkan dampak psikologis
yang negatif pada dirinya. Jadi trust issue menjadi sangat berbahaya
jika tidak ditangani sesegera mungkin. Untuk itu kita perlu mengetahui cara
mengatasi trust issue.
Cara mengatasi trust issue yang pertama
yaitu dengan cara mengenalinya, jelas sekali bukan. Setiap masalah yang kita
alami baiknya harus dikenali terlebih dahulu agar kita tahu cara mengatasinya. Selain
mengenal juga harus melakukan penerimaan pada diri, karena proses penyembuhan
pada masalah dibutuhkan adanya kesadasaran dan kesediaan dari diri sendiri.
Ketika seseorang sudah mengenal dan menerima dirinya bahwa ia mengalami kesulitan
untuk percaya dan mengalami pengalaman masa lalu terkait kepercayaan, ia akan
memandang dirinya secara utuh dan menganggap pengalaman masa lalu sebagai
bagian dari dirinya yang sekarang.
Kedua, memahami kembali konsep kepercayaan. Hal
ini menjadi penting, karena dengan memahami konsep kepercayaaan membuat
seseorang paham yang salah pada pemikirannya atau perasaannya terkait
kepercayaan. Menurut McShane dan Von Glinow dalam Hanum, 2018 bahwa konsep
kepercayaan yaitu jika seseorang telah yakin dengan orang lain yang berpengaruh
pada dirinya walaupun beresiko, tetapi ia percaya bahwa orang lain tidak akan membahayakannya.
Bagi beberapa orang mungkin sulit, tak apa, tapi ingat bahwa setiap orang pasti
pernah melakukan kesalahan dan tidak ada hubungan yang sempurna, jangan
menganggap bahwa dirimu akan berakhir dengan mengalami kembali trauma lama.
Memahami kembali konsep kepercayaan bisa menggunakan cara berdialog dengan diri
sendiri.
Ketiga, latihan kepercayaan. Melatih diri untuk
mampu kembali percaya pada orang lain dan mampu membuka diri tanpa berpikir
bahwa orang tersebut akan mengkhianati suatu saat nanti. Melatih kepercayaan
melalui move on dari trauma lama, yaitu dengan cara membuka diri secara
perlahan dan berkomunikasi dengan orang terdekat tentang hal-hal yang sederhana.
Pada akhirnya akan berani mengungkapkan ketidak-nyamanan dengan lawan bicara,
teman atau partner. Libatkan emosi disetiap kali berkomunikasi dengan orang
lain, agar muncul keakraban diantara kalian.
Berikan kesempatan pada dirimu untuk melakukan
semua itu agar menjadi lebih kuat dan lebih dewasa dalam menyikapi hal atau
situasi yang sama maupun berbeda. Maafkan dan berikan kesempatan pada orang lain
yang telah mengecewakan atau menghianatimu, karena setiap orang memiliki banyak
komponen dalam diri mereka, jadi lihatlah komponen positifnya.
Keempat, hubungi psikolog atau terapis. Jika trust
issue menjadi sangat berlebihan dan mengganggu aktivitas serta tidak mampu
lagi untuk mengatasinya, segera hubungi tim profesional yaitu psikolog. Dari
psikolog akan banyak terapi yang dapat dilakukan untuk mengatasi kesulitan percaya
pada orang, sehingga seseorang bisa kembali memberi kepercayaan dan menjalin
hubungan dengan orang lain tanpa ada rasa khawatir lagi.
Kesimpulannya adalah sebenarnya trust issue
itu semacam EDM atau biasa disebut sebagai mekanisme pertahanan diri.
berawal dari seseorang memberi kepercayaan kemudian dikecewakan, sehingga
membuat seseorang itu menjadi berhenti percaya dan membatasi diri dari berbagai
kesempatan. Artinya ketika seseorang pernah merasakan dilukai atau dikecewakan
atau dihianati, kemungkinan besar dia akan menjadi waspada dan hati-hati terhadap
apapun termasuk orang.
Hal itu dapat sembuh sendiri ketika masih
dalam batas wajar dan tidak berlebihan yaitu dengan cara membiarkan peluang
atau kesempatan untuk dirimu agar sembuh dari trust issue. Jika trust
issue menjadi berlebihan sehingga mengganggu aktivitas, jelas akan
menjadi berbahaya karena mampu memicu munculnya permasalahan lain yang lebih
berat. Hal itu yang pada akhirnya tidak bisa sembuh dengan sendirinya dan perlu
adanya bantuan dari pihak profesional yaitu psikolog.
Kalo kata dr. Andreas “it’s okay punya trust
issue, but it’s not okay ketika berlebihan dan membuka ke masalah-masalah
berikutnya”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar